"Passport" ala Pak Bonggas

Selasa, 26 Desember 2017 Sebelum Tahun 2017 ini berakhir, sebaiknya gue harus mengabadikan pengalaman paling spektakuler dalam hidup gue...

Selasa, 26 Desember 2017


Sebelum Tahun 2017 ini berakhir, sebaiknya gue harus mengabadikan pengalaman paling spektakuler dalam hidup gue, yang terjadi di tahun ini. 

Apa maksud dari Passport ?
lalu siapakah Pak Bonggas Adhi Chandra ?

Mari kita mulai dengan sosok nama yang ada di judul tulisan ini. Pak Bonggas Adhi Chandra, sebut saja Pak Bonggas. Beliau adalah salah satu Dosen Hubungan Internasional di Universitas Paramadina, mata kuliah Kepemimpinan dalam Hubungan Internasional. Iya, beliau lah yang menjadi dosen mata kuliah Kepemimpinan dalam HI di semester 7 gue. 

Passport ? Sebuah kisah inspirasi dari seorang dosen bernama Rhenald Kasali, dosen yang memberikan tugas kepada setiap mahasiswanya untuk mengurus Passport kemudian berkelana ke luar negeri yang minim bahasa Inggris. Kisah inspirasi ini membawa Pak Bonggas untuk melakukan hal serupa kepada kami mahasiswanya. Hanya saja berbeda dengan Pak Rhenald, Pak Bonggas memberikan tugas " Whats ur Dream Place " di Indonesia, pergilah kesana dan lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain. 

Dari situlah, semester ini, mahasiswa angkatan 2014 jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina Jalan-jalan ke berbagai daerah di Indonesia. 

Mari kita mulai saja ceritanya,


Labuan Bajo adalah salah satu tempat impian gue, tetapi banyak hal harus dipertimbangkan mengingat budget untuk menuju sana sangat mahal. Awal semester tujuh sekitar pertengahan bulan September 2017, Hari pertama Kuliah kelas Kepemimpinan dalam HI, Labuan bajo ini seolah semakin memanggil untuk dikunjungi. 

Masih gue ingat beliau meminta anak-anak menulis 2 destinasi impian kita di selembar kertas kecil. Pada waktu itu gue menulis Pulau Padar dan Baluran (Pulau padar ada di Labuan Bajo). Setelah dikumpulkan kertasnya beliau kembali berkata “ini adalah destinasi untuk kalian UAS”. Kelas langsung gaduh dengan segala penolakan dari anak-anak tetapi tidak merubah keputusan pak Bonggas. gue juga sempat berpikir biaya yang mahal tidak mungkin dibolehkan oleh orang tua. Saat itu banyak teman-teman yang mengubah lokasi mereka karena tidak ingin mencoba dulu. Tetapi gue memilih untuk tetap ke Labuan Bajo dan memikirkan serta merancangnya dari saat itu juga. Satu perkataan pak Bonggas yang gue teladani “ jangan memikirkan kekurangnya dulu “ iya benar, gue sampingkan semua kekurangan dari perencanaan gue.

Sejak September 2017, gue mencari informasi dan kenalan orang Labuan Bajo di sosial media, khususnya di Instagram. Bersyukur gue direkomendasikan teman yang punya teman berasal dari Labuan Bajo. Bertemulah gue dengan Kak Dedy dan ibunya yang dengan senang hati mau membantu untuk memberikan informasi tentang Labuan Bajo

Singkat cerita, ibunya kak Dedy merekomendasikan Dusun Tana Dereng untuk menjadi tempat Project gue. Dusun tana dereng adalah salah satu dusun dari beberapa dusun yang berada di desa Compang Longgo. Letaknya tidak begitu jauh dari Labuan Bajo, kira-kira 25-30 menit perjalanan dengan sepeda motor.  Di dusun Tana Dereng,  sama sekali tidak ada listrik, hanya ada genset dan tidak semua memiliki genset hanya beberapa rumah saja. Air bersih juga sangat sulit di sana. Penduduk sana biasanya membeli air minum di Galon untuk masak dan minum mereka. Tujuan gue ke sana adalah untuk kontribusi sosial di Sekolah Dasar yang ada di sana. Namanya SDI Munting Kajang.

Mulailah gue merancang segala "Project" apa yang akan gue lakukan selama di sana. Dari 5 project gue menyaring kembali hingga menjadi 3 project. Tema besar dari project gue adalah Nasionalisme dan Optimalisasi Otak Kanan. Selain menyiapkan materi project, gue juga mengadakan donasi untuk dibawa ke dusun Tana Dereng. Alhamduillah, banyak yang antusias memberikan donasi baik berupa uang tunai, alat tulis, dsb. semakin menambah semangat gue hehe.

Beberapa bulan kemudian ......

Hari Pertama, Bangga Jadi Anak Indonesia
Senin, 11 desember 2017


Waktu menunjukkan pukul 7.30 WITA, setelah sarapan gue segera menuju Sekolah Dasar Impres Munting Kajang yang tidak terlalu jauh dari rumah yang gue tumpangi. Sesampai di sana, Upacara bendera sedang berlangsung, sambil menunggu upacara selesai gue mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi. Setelah upacara berakhir, gue segera menemui Kepala Sekolah SD Munting Kajang untuk meminta ijin dan melapor kedatangan serta tujuan gue datang ke SD.

Setelah berbincang dengan Kepala Sekolah, gue langsung di antar menuju kelas 3, yang kebetulan ada jam yang tidak terisi di situ. Setelah memasuki ruang kelas, pemandangan yang pertama kali gue lihat yaitu lantai kelas yang sudah rusak dan cukup parah. Tetapi semua kecemasan itu langsung hilang karena Di depan gue ada anak-anak hebat yang duduk manis menyambut kedatangan gue. Wajah ceria mereka juga menambah semangat gue pagi itu.

Kondisi Kelas

Suasana Kelas saat pertama kali gue masuk


Hari pertama gue isi dengan materi Bangga jadi anak Indonesia dan aku punya mimpi, suasana semakin seru ketika gue bertanya tentang pengetahuan umum seperti nama presiden RI, jumlah provinsi Indonesia dan beberapa point bangga menjadi anak Indonesia. Antusias mereka semakin memuncak saat setiap pertanyaan ada hadiahnya. gue menceritakan tentang banyak orang sukses yang berhasil menggapai mimpinya. gue juga memberikan mereka motivasi untuk terus semangat walau dalam keterbatasan. Banyak dari mereka memiliki cita-cita ingin menjadi menteri dan dokter. 

Kemudian di akhir materi gue memberikan materi perkenalkan nama dengan bahasa inggris. Mereka antusias beberapa ada yang mencoba untuk maju kedepan untuk mempraktekkan. Di akhir kelas, mereka menulis surat untuk gue, isi suratnya adalah ucapan terimakasih karena gue telah memberikan mereka semangat. Ada juga yang mendoakan agar gue sehat selalu hingga ada yang menginginkan gue untuk tinggal lebih lama di dusun mereka.  



suasana saat belajar Bahasa Inggris

suasana saat belajar Bahasa Inggris

salah satu siswa
Hari Kedua “Ruang Kreatif”
Selasa, 12 Desember 2017

Tidak berbeda dengan hari pertama, pagi-pagi gue sudah berangkat ke sekolah untuk melakukan project terakhir saya di dusun Tander. Sesampai di sekolah, ternyata kedatangan gue sudah di tunggu Kepala Sekolah, segera gue diantar ke kelas. Hari itu gue akan melakukan project gue di kelas 5, yang sedang free pada saat itu. Pada project gue ini, gue ingin berbagi pengetahuan tentang mengoptimalkan otak kanan yang mana seperti kita ketahui bahwa otak kanan manusia memiliki fungsi yang lebih kreatif cenderung ke sesuatu yang berbasis seni. gue telah menyiapkan alat tulis dan gambar dan reward yang mana alat tulis dan hadiah itu merupakan donasi dari orang-orang sekeliling gue. Sesuai amanah gue bagikan dengan bijak. 

Kelas hari itu di isi dengan menggambar dan menulis puisi, yang mana hasil gambar dan puisi anak-anak akan di tempel di mading yang gue buat di bantu oleh kepala sekolah yang menyiapkan papan tripleks sebagai mading. Dengan peralatan sederhana mading tersebut di sulap dan di beri nama “RUANG KREATIF”. Kelas Menggambar dan menulis puisi dimulai, anak-anak antusias menggambar dan mewarnai di atas kertas gambar yang sudah saya sediakan serta crayon. Banyak dari mereka lebih senang menggambar, beberapa juga menulis puisi. Setelah semua selesai menggambar dan menulis puisi, gue meminta agar mereka menempelkan sendiri hasil karya mereka ke mading. Setelah semua karya ditempelkan, gue mengumumkan hasil karya terbaik, untuk mendapatkan hadiah. Kemudian gue juga membagikan alat tulis, kamus, dan buku gambar kepada semua anak. Di akhir kelas, gue dan anak-anak berfoto-foto di depang mading yang kita buat bersama. 

Mading Ruang Kreatif

suasana anak-anak sedang menggambar untuk mading
suasana anak-anak sedang menggambar untuk mading



Keseruan tidak berhenti sampai situ, mereka juga menulis surat untuk gue dan meminta gue membacanya ketika akan berangkat meninggalkan dusun. Gue punya niat untuk membuat sesuatu yang bermanfaat di sekolah, dan apa yang gue bagikan ke mereka juga karya mereka tidak hilang begitu saja. Oleh karena itu gue memutuskan untuk membuat Mading RUANG KREATIF dan Kepala sekolah SDI Munting Kajang juga pada saat itu mengapresiasi ide gue, dan bersedia untuk menempatkan mading Ruang Kreatif di perpustakaan sekolah mereka. Jujur, gue merasa senang saat itu mendengar pernyataan Kepala sekolah. 


BERSAMBUNG ....... ( I Left My Heart in Labuan Bajo )

You Might Also Like

0 comments

Translate