"Passport" ala Pak Bonggas
Friday, January 05, 2018Selasa, 26 Desember 2017
Sebelum Tahun 2017 ini berakhir, sebaiknya gue harus mengabadikan pengalaman paling spektakuler dalam hidup gue, yang terjadi di tahun ini.
Apa maksud dari Passport ?
lalu siapakah Pak Bonggas Adhi Chandra ?
Mari kita mulai dengan sosok nama yang ada di judul tulisan ini. Pak Bonggas Adhi Chandra, sebut saja Pak Bonggas. Beliau adalah salah satu Dosen Hubungan Internasional di Universitas Paramadina, mata kuliah Kepemimpinan dalam Hubungan Internasional. Iya, beliau lah yang menjadi dosen mata kuliah Kepemimpinan dalam HI di semester 7 gue.
Passport ? Sebuah kisah inspirasi dari seorang dosen bernama Rhenald Kasali, dosen yang memberikan tugas kepada setiap mahasiswanya untuk mengurus Passport kemudian berkelana ke luar negeri yang minim bahasa Inggris. Kisah inspirasi ini membawa Pak Bonggas untuk melakukan hal serupa kepada kami mahasiswanya. Hanya saja berbeda dengan Pak Rhenald, Pak Bonggas memberikan tugas " Whats ur Dream Place " di Indonesia, pergilah kesana dan lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.
Dari situlah, semester ini, mahasiswa angkatan 2014 jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina Jalan-jalan ke berbagai daerah di Indonesia.
Mari kita mulai saja ceritanya,
Passport ? Sebuah kisah inspirasi dari seorang dosen bernama Rhenald Kasali, dosen yang memberikan tugas kepada setiap mahasiswanya untuk mengurus Passport kemudian berkelana ke luar negeri yang minim bahasa Inggris. Kisah inspirasi ini membawa Pak Bonggas untuk melakukan hal serupa kepada kami mahasiswanya. Hanya saja berbeda dengan Pak Rhenald, Pak Bonggas memberikan tugas " Whats ur Dream Place " di Indonesia, pergilah kesana dan lakukan sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.
Dari situlah, semester ini, mahasiswa angkatan 2014 jurusan Hubungan Internasional Universitas Paramadina Jalan-jalan ke berbagai daerah di Indonesia.
Mari kita mulai saja ceritanya,
Labuan Bajo adalah salah satu tempat impian gue,
tetapi banyak hal harus dipertimbangkan mengingat budget untuk menuju sana
sangat mahal. Awal semester tujuh sekitar pertengahan bulan September 2017,
Hari pertama Kuliah kelas Kepemimpinan dalam HI, Labuan bajo ini seolah semakin
memanggil untuk dikunjungi.
Masih gue ingat beliau meminta anak-anak menulis 2 destinasi impian kita di
selembar kertas kecil. Pada waktu itu gue menulis Pulau Padar dan Baluran
(Pulau padar ada di Labuan Bajo). Setelah dikumpulkan kertasnya beliau kembali
berkata “ini adalah destinasi untuk kalian UAS”. Kelas langsung gaduh dengan
segala penolakan dari anak-anak tetapi tidak merubah keputusan pak Bonggas. gue juga sempat berpikir biaya yang mahal tidak mungkin dibolehkan oleh orang
tua. Saat itu banyak teman-teman yang mengubah lokasi mereka karena tidak ingin
mencoba dulu. Tetapi gue memilih untuk tetap ke Labuan Bajo dan memikirkan
serta merancangnya dari saat itu juga. Satu perkataan pak Bonggas yang gue teladani
“ jangan memikirkan kekurangnya dulu “ iya benar, gue sampingkan semua
kekurangan dari perencanaan gue.
Sejak September 2017, gue mencari informasi dan kenalan orang Labuan Bajo di sosial media, khususnya di Instagram. Bersyukur gue direkomendasikan teman yang punya teman berasal dari Labuan Bajo. Bertemulah gue dengan Kak Dedy dan ibunya yang dengan senang hati mau membantu untuk memberikan informasi tentang Labuan Bajo
Singkat cerita, ibunya kak Dedy merekomendasikan Dusun Tana Dereng untuk menjadi tempat Project gue. Dusun tana dereng adalah salah satu dusun dari beberapa dusun yang berada di desa Compang Longgo. Letaknya tidak begitu jauh dari Labuan Bajo, kira-kira 25-30 menit perjalanan dengan sepeda motor. Di dusun Tana Dereng, sama sekali tidak ada listrik, hanya ada genset dan tidak semua memiliki genset hanya beberapa rumah saja. Air bersih juga sangat sulit di sana. Penduduk sana biasanya membeli air minum di Galon untuk masak dan minum mereka. Tujuan gue ke sana adalah untuk kontribusi sosial di Sekolah Dasar yang ada di sana. Namanya SDI Munting Kajang.
Mulailah gue merancang segala "Project" apa yang akan gue lakukan selama di sana. Dari 5 project gue menyaring kembali hingga menjadi 3 project. Tema besar dari project gue adalah Nasionalisme dan Optimalisasi Otak Kanan. Selain menyiapkan materi project, gue juga mengadakan donasi untuk dibawa ke dusun Tana Dereng. Alhamduillah, banyak yang antusias memberikan donasi baik berupa uang tunai, alat tulis, dsb. semakin menambah semangat gue hehe.
Beberapa bulan kemudian ......
Hari Pertama, Bangga Jadi Anak Indonesia
Senin, 11 desember 2017
Hari Kedua “Ruang
Kreatif”
Sejak September 2017, gue mencari informasi dan kenalan orang Labuan Bajo di sosial media, khususnya di Instagram. Bersyukur gue direkomendasikan teman yang punya teman berasal dari Labuan Bajo. Bertemulah gue dengan Kak Dedy dan ibunya yang dengan senang hati mau membantu untuk memberikan informasi tentang Labuan Bajo
Singkat cerita, ibunya kak Dedy merekomendasikan Dusun Tana Dereng untuk menjadi tempat Project gue. Dusun tana dereng adalah salah satu dusun dari beberapa dusun yang berada di desa Compang Longgo. Letaknya tidak begitu jauh dari Labuan Bajo, kira-kira 25-30 menit perjalanan dengan sepeda motor. Di dusun Tana Dereng, sama sekali tidak ada listrik, hanya ada genset dan tidak semua memiliki genset hanya beberapa rumah saja. Air bersih juga sangat sulit di sana. Penduduk sana biasanya membeli air minum di Galon untuk masak dan minum mereka. Tujuan gue ke sana adalah untuk kontribusi sosial di Sekolah Dasar yang ada di sana. Namanya SDI Munting Kajang.
Mulailah gue merancang segala "Project" apa yang akan gue lakukan selama di sana. Dari 5 project gue menyaring kembali hingga menjadi 3 project. Tema besar dari project gue adalah Nasionalisme dan Optimalisasi Otak Kanan. Selain menyiapkan materi project, gue juga mengadakan donasi untuk dibawa ke dusun Tana Dereng. Alhamduillah, banyak yang antusias memberikan donasi baik berupa uang tunai, alat tulis, dsb. semakin menambah semangat gue hehe.
Beberapa bulan kemudian ......
Hari Pertama, Bangga Jadi Anak Indonesia
Senin, 11 desember 2017
Waktu
menunjukkan pukul 7.30 WITA, setelah sarapan gue segera menuju Sekolah Dasar
Impres Munting Kajang yang tidak terlalu jauh dari rumah yang gue tumpangi.
Sesampai di sana, Upacara bendera sedang berlangsung, sambil menunggu upacara
selesai gue mengambil beberapa foto sebagai dokumentasi. Setelah upacara
berakhir, gue segera menemui Kepala Sekolah SD Munting Kajang untuk meminta
ijin dan melapor kedatangan serta tujuan gue datang ke SD.
Setelah
berbincang dengan Kepala Sekolah, gue langsung di antar menuju kelas 3, yang
kebetulan ada jam yang tidak terisi di situ. Setelah memasuki ruang kelas,
pemandangan yang pertama kali gue lihat yaitu lantai kelas yang sudah rusak
dan cukup parah. Tetapi semua kecemasan itu langsung hilang karena Di depan gue ada anak-anak hebat yang duduk manis menyambut kedatangan gue. Wajah ceria mereka
juga menambah semangat gue pagi itu.
| Kondisi Kelas |
| Suasana Kelas saat pertama kali gue masuk |
Hari
pertama gue isi dengan materi Bangga jadi anak Indonesia dan aku punya mimpi, suasana
semakin seru ketika gue bertanya tentang pengetahuan umum seperti nama
presiden RI, jumlah provinsi Indonesia dan beberapa point bangga menjadi anak
Indonesia. Antusias mereka semakin memuncak saat setiap pertanyaan ada
hadiahnya. gue menceritakan tentang banyak orang sukses yang berhasil
menggapai mimpinya. gue juga memberikan mereka motivasi untuk terus semangat
walau dalam keterbatasan. Banyak dari mereka memiliki cita-cita ingin menjadi
menteri dan dokter.
Kemudian di akhir materi gue memberikan materi perkenalkan
nama dengan bahasa inggris. Mereka antusias beberapa ada yang mencoba untuk
maju kedepan untuk mempraktekkan. Di akhir kelas, mereka menulis surat untuk gue, isi suratnya adalah ucapan terimakasih karena gue telah memberikan
mereka semangat. Ada juga yang mendoakan agar gue sehat selalu hingga ada yang
menginginkan gue untuk tinggal lebih lama di dusun mereka.
| suasana saat belajar Bahasa Inggris |
| suasana saat belajar Bahasa Inggris |
| salah satu siswa |
Selasa,
12 Desember 2017
Tidak
berbeda dengan hari pertama, pagi-pagi gue sudah berangkat ke sekolah untuk
melakukan project terakhir saya di
dusun Tander. Sesampai di sekolah, ternyata kedatangan gue sudah di tunggu
Kepala Sekolah, segera gue diantar ke kelas. Hari itu gue akan melakukan
project gue di kelas 5, yang sedang free
pada saat itu. Pada project gue ini, gue ingin berbagi pengetahuan tentang
mengoptimalkan otak kanan yang mana seperti kita ketahui bahwa otak kanan
manusia memiliki fungsi yang lebih kreatif cenderung ke sesuatu yang berbasis
seni. gue telah menyiapkan alat tulis dan gambar dan reward yang mana alat tulis dan hadiah itu merupakan donasi dari
orang-orang sekeliling gue. Sesuai amanah gue bagikan dengan bijak.
Kelas
hari itu di isi dengan menggambar dan menulis puisi, yang mana hasil gambar dan
puisi anak-anak akan di tempel di mading yang gue buat di bantu oleh kepala
sekolah yang menyiapkan papan tripleks sebagai mading. Dengan peralatan
sederhana mading tersebut di sulap dan di beri nama “RUANG KREATIF”. Kelas
Menggambar dan menulis puisi dimulai, anak-anak antusias menggambar dan
mewarnai di atas kertas gambar yang sudah saya sediakan serta crayon. Banyak
dari mereka lebih senang menggambar, beberapa juga menulis puisi. Setelah semua
selesai menggambar dan menulis puisi, gue meminta agar mereka menempelkan
sendiri hasil karya mereka ke mading. Setelah semua karya ditempelkan, gue mengumumkan hasil karya terbaik, untuk mendapatkan hadiah. Kemudian gue juga
membagikan alat tulis, kamus, dan buku gambar kepada semua anak. Di akhir
kelas, gue dan anak-anak berfoto-foto di depang mading yang kita buat bersama.
| Mading Ruang Kreatif |
| suasana anak-anak sedang menggambar untuk mading |
0 comments